Pencak silat bukan sekedar olah raga bela diri atau kekuatan fisik untuk memenangkan pertarungan. Penyebarannya secara historis tidak lepas dari peran kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Kini pencak silat menjadi olah raga yang telah menjadi perhatian dunia internasional. Beberapa negara asing telah menjadikan pencak silat sebagai seni bela diri yang sedang digalakkan.

Dalam budaya bangsa, pencak silat adalah bagian ksenian yang terpelihara dari masa ke masa. lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Tak heran jika keberadaannya mendapat apresiasi dari masyarakat luas. Itu terbukti adanya banyak pertandingan yang digelar untuk mencetak para pesilat handal sekaligus mengembangkan budaya tersebut agar terjaga kelestariannya.

Dalam rangka untuk itu, Unesa menghelat pertandingan pencak silat yang bertajuk Unesa Open 2008 atau invitasi Pencak Silat Unesa yang diselenggarakan pada hari Rabu ā€“ Sabtu, 13-17 Agustus 2008. Pertandingan dilakukan beberapa hari karena jumlah peserta yang jumlahnya ratusan. Dalam even tersebut diikuti oleh pesilat dari berbagai perguruan tapak suci yang merupakan kelanjutan dari kejurwil Jatim. Sedikitnya terdapat 350 peserta yang bertanding.

Jumlah ini lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 540 peserta. Menurunnya jumlah tersebut bukan karena respon dari peminat olah raga pencak silat berkurang, tapi karena batasan kuota yang ditentukan oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) atau Tapak Suci, sehingga jumlahnya tidak sebanyak dulu.

“Pembatasan itu sudah diatur oleh IPSI, jadi jumlah peserta yang ikut kompetisi jumlahnya dibatasi,” ujar Ustdaz Ainur Rafiq yang mendampingi para siswa dari SMP Al Falah Deltasari. .

Ada beberapa kategori yang dilombakan dintaranya pra remaja dengan umur 9-13 tahun, Remaja umur 14-17 tahun, Dewasa 18-21 tahun. SMP Deltasai menerjunkan 5 siwanya untuk bertanding. Kelima siswa tersebut sudah diseleksi dari beberapa siswa yang ikut ekstra tapak suci di sekolah. Sebelumnya ada pembekalan agar para siswa tampil dengan percaya diri. Terutama dengan latihan secara serius dan rutin. Alhamdulillah, kerja keras tersebut membuahkan hasil membanggakan.

“Berkat latihan kontinu, restu orangtua dan motivasi dari guru, ” ujar ustdz Ainur Rafiq menjelaskan resep jitu agar bisa menang. Sandra Bagus kelas IX-1 mampu meraih emas atau juara 1 untuk kategori remaja putra (tarung tanpa body). Sedangkan Geovanni kelas IX-1 berhasil menyabet perak atau juara 2. ā€œ Senang sekali, apalagi pertandingan ini levelnya adalah propinsi, ā€œ katanya percaya diri. (Abdillah)