Puisi termasuk salah satu bentuk tulisan yang usianya sangat tua. Mungkin bisa disebut nenek moyang dalam dunia penulisan. Sebagai bagian dari sastra, puisi saat ini mengalami banyak perkembangan. Itu ditandai dengan terangkatnya nilai puisi ke taraf pengungkapan estetika yang tinggi mutunya, memiliki persepsi yang tajam dan menampilkan angle persoalan yang menarik, mempunyai daya kreativitas yang tinggi dengan bahasa yang menyegarkan, konsisten sehingga menjadi citra tinggi sebagai karya sastra.

Tuntutan terhadap pengembangan serta popularitas sastra terutama di subyek puisi terus dikembangkan dan dilestarikan. Untuk itu, Diknas kabupaten Sidoarjo mengadakan lomba puisi tingkat kabupaten yang diadakan pada tanggal 23 Oktober 2008. Pesertanya dari berbagai sekolah yang ada di Sidoarjo. Lomba ini merupakan estafet yang akan dilanjutkan seleksi ke jenjang propinsi. Puisi, sebagaimana umumnya, cenderung mudah dikenali, baik ketika masih berbentuk aksara maupun setelah dibacakan. Kata-kata yang tidak biasa, penggunaan metafor, hingga ketidaklengkapan kalimatnya memberi ciri tersendiri bagi puisi. Dalam konteks kesenian, puisi dapat juga dijadikan sebagai media pencerahan sekaligus sebagai pendidikan dan hiburan. Konsep puisi yang unik dan sederhana membuat lomba tersebut dihadiri oleh banyak peserta. Alhamdulilllah, Nizar Aditya siswa SMP Al Falah kelas 8-1 mampu menyabet juara II setelah tampil elegan di hadapan para juri penilai. Siswa yang biasa dipanggil Didit tersebut membaca puisi yang berjudul “Testimoni” dengan penuh penghayatan. Membacanya tentu berbeda dengan membaca teks pidato atau dengan seperti penyiar televisi. Tapi harus ada ekspresi dan gerak verbal untuk mendukung penampilan lebih sempurna. Apalagi, puisi ternyata dapat menyentuh secara dalam terhadap nilai-nilai kehidupan bahkan menjadi sarana yang cukup efektif dalam membangun nilai-nilai kemanusiaan yang bermartabat. Dari sekian banyak peserta, rata-rata penampilannya cukup menawan. Meski bukan seniman atau sastrawan, siswa-siswa sekolah yang berlaga juga pandai berolah kata. Bahkan penampilan mereka sangat ekspresif. Namun tampilan Didit, demikian biasa dipanggil, yang penuh percaya diri membuat juri terperangah dan menetapkannya menjadi juara runner up. Bagi Didit, puisi bukan semata masalah keindahan yang ditulis di kartu-kartu ucapan yang hanya dibaca sekali lalu lebih sering dibuang. Tapi berupa kreativitas yang bukan hanya bergantung pada bakat alam, tetapi adanya kesediaan untuk belajar dari tradisi kesusasteraan yang terus berkembang. “Penggunaan berbagai kata-kata yang tidak biasa dalam puisi sendiri pada dasarnya adalah bagian dari proses berkomunikasi dan berbahasa. Sama seperti jika ada orang Indonesia yang lebih suka mengungkapkan beberapa hal (rasa sakit, rasa terkejut, rasa senang, dsb),” ungkapnya panjang lebar. Untuk meraih prestasi tersebut bukan hal yang mudah karena peserta dari berbagai sekolah juga menujukkan kemampuan yang bagus. Namun berkat kerja keras serta dukungan keluarga, guru dan teman teman prestasi itu mampu diraih. Yang jelas, latihan dengan tekun adalah kuncinya. Tanpa ketekunan dan ridho dari Allah, mustahil kesuksesan dapat dicapai.